KEINDAHAN BANGUNAN DI DAERAH JATINEGARA

| Senin, 07 Maret 2016


Sebelum kita masuk dalam topik pembicaraan kita kali ini. Saya ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan keindahan. Keindahan bisa dikatakan sesuatu yang indah atau cantik yang dapat dinikmati jika telah dihubungkan dengan suatu bentuk yang berwujud Contohnya seperti kutipan pada lagu anak-anak yang berjudul PELANGI “pelangi-pelangi alangkah indahmu”. Pelangi itu berwujud, maka kita dapat melihat dan bahkan dapat menikmati keindahannya. Akan tetapi keindahaan yang tidak terwujud juga dapat dinikmati, contohnya sebuah lagu, musik ataupun nada yang hanya bisa dinikmati oleh indera pendengar.

Tapi kali ini kita akan menceritakan tentang keindahan yang terwujud yang menjurus pada seni yaitu tentang keindahan bangunan yang berada di daerah Jatinegara. Dahulunya Jatinegara bernama Meester Cornelis. Nama Meester Cornelis diambil dari nama seorang tokoh guru agama Kristen yang bernama Meester Cornelis Senen yang merupakan penduduk Indonesia keturunan Protugis. Beliau fasih berkhotbah dengan baik dalam bahasa Melayu dan Protugis. Beliau awalnya membuka lahan hutan dan hutan tersebut diberi nama sesuai dengan namanya, setelah itu hutan tersebut berubah menjadi pusat transportasi. Nama Jatinegara diperkenalkan pada abad pertengahan 17 yakni pada tahun 1942 pada jaman Jepang, yang sebelumnya pangeran Ahmad Jayakarta mempopulerkan nama Jatinegara saat mendirikan perkampungan di Pulo Gadung di daerah Jakarta Timur, setelah Belanda menghancurkan keraton beliau di Sunda Kelapa. Jatinegara merupakan pusat kabupaten yang meliputi Bekasi, Cikarang, Matrman dan Kebayoran. Jatinegara diganti menjadi berstatus sebagai siku setingkat kewedanan bersama Penjaringan, Mangga Besar, Gambir, Tanjung Priok, Tanah Abang, dan Pasar Senen.
Di Jatinegara terdapat beberapa bangunan yang berarsitektur Hindies atau campuran dari unsur budaya barat terutama budaya Belanda dan budaya Indonesia terutama budaya Jawa. Bentuk bangunan ini sebagai simbol kekuasaan, status sosial dan kebesaran penguasa saat itu. Berikut adalah bangunan yang berarsitektur Hindies diantaranya:
3.  Stasiun Jatinegara
                                  
       Stasiun Jatinegara tahun 1924            Stasiun Jatinegara tahun 2007

Stasiun Jatinegara merupakan salah satu bangunan stasiun dari 4 stasiun pertama yang berdiri di kota Jakarta. Diprediksikan stasiun ini dibangun pada abad 20 diidentifikasi dari struktur batang dan tembok dinding stasiun yang sudah menggunakan cor beton menggunakan gaya arsitektur yang indah. Bangunan stasiun ini memiliki ciri pedesaan Belanda, namun juga disesuaikan untuk daerah tropis, berarsitektur Hindies atau campuran dari unsur budaya barat terutama budaya Belanda dan budaya Indonesia terutama budaya Jawa. Terlihat pada bangunan ini dengan 2 buah daun jendela, langit atau plafon yang tinggi, dan ventilasi udara diatas jendela.

2.  SMP 14 Jakarta
Bangunan SMP 14 Jakarta ini memiliki nilai arsitektur yang sangat indah, berdiri pada awal abad 19 yang dahulunya merupakan tempat tinggal para petinggi kolonial Belanda saat itu. Dari bentuk arsitektur, bangunan ini bergaya art deco dan hampir sejaman dengan museum Bank Mandiri yang berada di Kota Tua.

3.  Gedung Skoodim 05-05


Gedung ini bergaya Neo Gothic terlihat pada unsur fasad banguan pilar, pada bangunan ini terlihat adanya 2 buah daun jendela, langit atau plafon yang tinggi dan ventilasi udara diatas jendela yang memperlihatkan unsur Hindies nya

Referensi :
video arsitektur meester cornelees



Baca selengkapnya »
 

Copyright © 2010 Yuni Nofitasari | Design by btemplatebox.com